rajatrafficNET
Penanganan Autisme Sejak Dini Lebih Baik

Penanganan Autisme Sejak Dini Lebih Baik

1 Jan 2020
33x
Ditulis oleh : Admin

Autisme sudah bukan hal baru di telinga masyarakat. Akan tetapi, masih ada kesalahpahaman di tengah masyarakat terkait dengan autisme. Misalnya, anggapan bahwa anak autisme dapat muncul sebagai pribadi yang penuh bakat (bright), bahkan jenius. Padahal, sebagian besar anak autis memiliki IQ di bawah rata-rata.

Berdasarkan kemampuan kognisinya, penderita autisme terbagi ke dalam tiga kelompok, low functioning (IQ <50), middlefunctioning, serta high functioning (IQ 70-90).

Biasanya, autis yang mampu berkomunikasi atau yang memiliki bakat berada di level high functioning. Sedikit sekali (<5-10%) penderita autisme dengan level IQ normal atau level IQ di atas rata-rata. Pemahaman masyarakat terkait dengan autisme masih kurang. Misalnya, kebiasaan mencari referensi dari media sosial yang kadang tidak terjamin kesahihannya.

Gejala awal autisme selalu terlihat dari gangguan kebahasaan. Anak dapat bersuara tetapi tidak berbahasa sehingga tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi. Mereka biasanya tidak interaktif, tidak ada feedback. Ada gangguan komunikasi yang berat sehingga kemampuan untuk berkomunikasi terbatas. Gejalanya diawali dari keterlambatan bicara.

Akan tetapi, tidak semua penderita speech delay langsung didiagnosis autisme. Speech delay adalah salah satu gejala dari autisme karena anak yang terlambat bicara bisa karena banyak sebab seperti tuli, disabilitas intelektual, dan berbagai sindrom lainnya.

Dalam situasi seperti inilah bantuan profesional dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis dan mengenali apakah seorang anak menyandang autisme atau bukan. Jangan sampai salah mengenali disorder-nya karena bila salah maka akan salah kelola (penanganan).

Selain gangguan komunikasi berat, gejala umum anak dengan autisme adalah gangguan interaksi sosial yang juga berat. Mereka tidak memahami share enjoyment, tidak mampu menginisiasi jalinan informasi dan mempertahankannya. Dalam arti lain, cuek pada lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan gangguan interaksi sosialnya, penyandang autisme juga terbagi dalam tiga kelompok. Aloof yakni anak autis yang benar-benar asosial, tidak dapat melakukan interaksi, lalu pasif yakni mereka yang dalam berinteraksi perlu bantuan orang lain dan interaksinya pun berlangsung sangat singkat, serta kelompok active but odd yaitu anak yang memiliki interaksi sosial tetapi cenderung aneh.

Untuk kelompok terakhir, akan cukup sulit juga membedakannya dengan perilaku anak ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder) yang biasa disebut hiperaktif. Bedanya, anak dengan ADHD memiliki IQ normal.

Selain gangguan komunikasi dan interaksi, didapatkan gejala-gejala perilaku maladaptif dalam bentuk gaze yaitu menatap dengan cara seperti melirik, body rocking, serta spinning atau berputar-putar tak keruan.

Ada dua terapi terpilih berdasarkan perkembangan ilmu medis terkini yang baik diterapkan pada penyandang autisme, yaitu terapi perilaku dan farmakoterapi. Terapi perilaku bertujuan untuk meningkatkan kemampuan interaksi anak autis dan targetnya agar anak mampu melakukan interaksi dengan lawan bicaranya dan berkurangnya gejala perilaku maladaptif.

Terkadang, orangtua tidak sabar. Maunya anak dengan autisme langsung diterapi wicara, padahal tahapan sebelum terapi wicara masih banyak. Anak harus mengerti kepatuhan dulu, memahami instruksi dulu, baru kemudian dapat dilakukan terapi wicara.

Hal terpenting dari perkembangan anak dengan autisme adalah keterlibatan orangtua. Kerja sama antara orangtua, terapis, dan dokter anak sangat membantu kemajuan interaksi penyandang autisme. Anak tidak akan selamanya datang ke tempat terapi, jadi setting terapi harus meluas termasuk lingkungan rumah. Oleh karena itu, perlu orangtua yang pembelajar, bisa bekerja sama dengan program dari terapis, ikut parenting session, dan berkumpul dengan parents support group.

Waktu adalah musuh utama penanganan untuk anak berkebutuhan khusus. Kenali perilaku anak, waspadai gejala-gejalanya, lalu segera berkonsultasi ke dokter tumbuh kembang. Penyandang autisme yang tertangani ditangani sejak dini dengan terapi yang tepat dan ade-kuat akan memperlihatkan perubahan signifikan untuk kemajuan berkomunikasi dan kemajuan kognitifnya.

Baca Juga:
Apa dan Bagaimana Kehamilan Ektopik Bisa Terjadi

Apa dan Bagaimana Kehamilan Ektopik Bisa Terjadi

Kesehatan      

14 Jan 2020 | 136


Hamil ektopik atau hamil di luar kandungan merupakan kehamilan yang letaknya di luar rongga rahim atau bukan di tempat yang sebenarnya. Kehamilan ini paling sering terjadi pada lokasi ...

5 Tips Memilih Celana Panjang untuk Bergaya Fashion on the Street Bagi Hijaber

5 Tips Memilih Celana Panjang untuk Bergaya Fashion on the Street Bagi Hijaber

Tips      

15 Des 2019 | 225


Celana panjang dengan aksen tertentu boleh saja merupakan fashion item yang universal, sehingga bisa dikenakan siapa saja. Akan tetapi, tak semua celana panjang sesuai dengan bentuk tubuh ...

Yuk Berkunjung ke Keraton Ratu Boko, Istana Ayah Lara Jonggrang

Yuk Berkunjung ke Keraton Ratu Boko, Istana Ayah Lara Jonggrang

Wisata      

26 Jan 2020 | 100


Pernahkah Anda mendengar Keraton Ratu Boko? Saat liburan ke Yogyakarta Keraton Ratu Boko bisa menjadi salah satu tujuan kunjungan Anda. Keraton Ratu Boko terletak di sebuah bukit dengan ...

Ini Dia 4 Bahaya Alergi Makanan yang Wajib Diwaspadai

Ini Dia 4 Bahaya Alergi Makanan yang Wajib Diwaspadai

Kesehatan      

2 Feb 2020 | 74


Ketika mendengar kata alergi, kira-kira apa nih yang timbul di pikiran kita? Ya, pasti yang terbayang ialah kulit yang ruam dan merah diiringi gatal-gatal atau bintik-bintik merah dan eksim ...

Berkreasi dengan Shibori sambil Melatih Kesabaran

Berkreasi dengan Shibori sambil Melatih Kesabaran

Pengetahuan      

29 Des 2019 | 61


Shibori adalah cara menghias kain atau bahan tekstil dari Jepang dengan cara mencelup kain yang telah diikat, dijahit, atau dilipat menurut pola khusus. Di tanah air, shibori sering kali ...

Tips Mengenakan Turban Agar Terlihat Chic

Tips Mengenakan Turban Agar Terlihat Chic

Tips      

24 Des 2019 | 67


Tak ada orang yang tak cocok mengenakan turban. Ya, semua bisa bergaya dengan turban. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengoreksi kekurangan yang ada, sehingga bisa selalu tampil ...