
Depresi pada ibu hamil memang tak dipungkiri sering kali menghampiri para ibu. Tak hanya saat mengandung, depresi dapat juga dialami setelah sang ibu melahirkan bayinya. Di Amerika Serikat, misalnya, sekitar 30 persen dari ibu yang baru saja melahirkan diduga mengalami depresi pascamelahirkan. Meski bukan kehamilan pertama, tetap saja para ibu cukup kewalahan saat depresi itu datang.
Depresi kerap diakibatkan oleh pergantian hormon yang memengaruhi mood ibu secara menyeluruh sehingga si ibu kerap merasa sedih, jenuh atau kesal. Kondisi fisik yang berubah ketika hamil lantaran unsur hormonal. Biasanya produksi hormon akan meningkat sampai maksimal 16 minggu. Dalam rentang waktu tersebut, ibu sudah “mabuk kepayang” (sempoyongan). Namun, ada juga yang sampai ia melahirkan terus muntah atau hyperemesis gravadarum (muntah yang berlebihan), ini pengecualian.
Depresi pada ibu hamil lebih cocok disebut sebagai gangguan penyesuaian (adjustment problem) terhadap perubahan produksi hormon waktu hamil. Ini yang kadang susah diadaptasi oleh para ibu-ibu, proses penyesuaian diri. Ini yang susah, si ibu lebih emosional, menjadi suka marah karena proses penyesuaian dengan kehamilan itu.
Resiko ibu stres hingga mengalami depresi sangat riskan untuk anak. Walau dalam kandungan, janin telah dapat merasakan apa yang terjadi pada ibunya. Salah satu diantaranya saat depresi umumnya orang susah tidur atau menderita masalah tidur. Padahal ibu hamil mesti cukup saat tidurnya dan juga mencukupi konsumsi gizi dengan cukup makan dan minum.
Menurut riset yang telah dilakukan University of Miami Medical School selama 20 tahun menyatakan bahwa anak yang dilahirkan oleh ibu yang menderita depresi berat sepanjang kehamilan akan mempunyai kadar hormon stres yang tinggi, kegiatan otak yang peka pada depresi, memperlihatkan sedikit ekspresi, dan menderita gejala depresi lainnya, seperti sukar tidur dan makan.
Yang lebih fatal jika gejala depresi pada bayi baru lahir tak secepatnya diatasi, anak tumbuh menjadi anak yang tak bahagia. Mereka susah belajar berjalan, kurang berat badan, dan tak responsif pada orang lain. Jika kondisi ini tetap tidak teratasi, anak akan berkembang jadi balita yang mengalami depresi.
Ketika mulai sekolah mereka menderita gangguan tingkah laku, seperti gampang stres dan agresif. Anak menjadi tak tenang lantaran secara fisik dan psikis si ibu juga tak tenang. Sebaiknya kendalikan stres dan depresi dengan cara mendengar musik.
Pro Cafe Menghadirkan Kopi Berkualitas dan Menu Pendamping yang Lezat
11 Okt 2024 | 866
Pro Cafe telah menjadi nama yang dikenal dalam industri kopi karena pengalamannya yang sudah kurang lebih 20 tahun dalam meracik kopi berkualitas dengan cita rasa khas yang unik dan nikmat. ...
Gadai BPKB: Solusi Cepat untuk Kebutuhan Dana Tunai
22 Jan 2026 | 360
Dalam kondisi tertentu, kebutuhan dana tunai bisa datang secara mendadak. Mulai dari biaya kesehatan, pendidikan, hingga kebutuhan modal usaha. Salah satu solusi finansial yang banyak ...
Tempat Wisata Edukasi di Jakarta Yang Wajib di Kunjungi
30 Mei 2020 | 1585
Menikmati akhir pecan dengan wisata yang menambah pengetahuan bagi buah hati pasti menyenangkan. Saat ini berbagai tempat wisata menyediakan pengetahuan yang bisa dilihat sampai dirasakan. ...
Jelang Parade MotoGP, Begini Arus Lalu Lintas Kawasan Bundaran HI
16 Maret 2022 | 1469
Arus lalu lintas di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, ramai lancar menjelang pelaksanaan parade MotoGP, Rabu (16/3/2022). Menurut pantauan ...
8 Okt 2025 | 199
Dalam lanskap pendidikan tinggi yang terus berkembang, peran kampus tidak lagi terbatas pada penyampaian ilmu teoritis semata. Kini, mahasiswa diharapkan tidak hanya unggul secara akademis, ...
Meningkatkan Bisnis Anda Melalui Jasa Promosi dan Pelatihan Public Speaking
11 Jun 2025 | 366
Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, terutama di sektor Multi-Level Marketing (MLM), mampu mempromosikan produk dan layanan secara efektif menjadi salah satu kunci keberhasilan. Jasa ...