
Film bergenre petualangan fantasi untuk remaja belum banyak perubahan berarti sejak film "Twillight" diluncurkan dalam beberapa judul sekuelnya. Alih-alih mencari tema lain, film-film yang diluncurkan malah seperti template dari film tersebut, yakni mengisahkan seputar hubungan cinta antara dua individu berbeda dunia.
Namun film yang didistribusikan 21th Century Fox berjudul “The Maze Runner" mampu keluar dari pakem tersebut. Dunia remaja yang penuh ekspresi dan imajinasi dieksplorasi ke dalam satu film dengan bantuan efek gambar yang mengagumkan.
"The Maze Runner" adalah film yang diangkat dari dari novel best seller berjudul sama karangan James Dashner. Kisah yang tergolong fiksi ilmiah berlatar era kehancuran dunia pada masa yang akan datang itu cukup mengundang perhatian masyarakat untuk menyimaknya. Tentu, dengan ekspektasi kesuksesan novelnya yang beredar sejak 2007 lalu.
Film yang disutradarai Wes Ball itu raenceritakan perjalanan sejumlah remaja yang secara misterius dimasukkan ke dalam suatu area labirin yang sangat luas dan rumit. Berpuluh-puluh remaja dimasukkan lewat keranjang besi dari dalam tanah, satu per satu setiap bulannya sampai sekitar tiga tahun lamanya.
Setiap individu yang dimasukkan ke tengah labirin raksasa bernama Glade itu tidak pernah bisa mengingat apa pun. Bahkan, nama mereka baru bisa diingat dua hingga tiga hari setelahnya, termasuk dialami seorang cowok bernama Thomas (Dylan O'Brien).
Akting Dylan sebagai pemeran utama di film ini cukup sukses membuat penonton kebingungan. Seperti yang Thomas rasakan saat pertama kali tibadi Glade, tak sedikit pun informasi yang bisa ia ingat, termasuk namanya.
Lama-kelamaan ia mengerti setelah diberikan pemahaman okh Alby (Ami Ameen) sebagai orang yang dituakan remaja lainnya di sana. Alby menjelaskan, para remaja yang seluruhnya cowok itu terjebak di tengah labirin dan tak ada yang bisa keluar dari sana hingga tiga tahun terakhir ini.
Hanya ada satu gerbang besar yang terbuka sepanjang hari dan tertutup kembali saat menjelang malam. Beberapa remaja terpilih yang dijuluki pelari {runner) berusaha menyusuri labirin, mencari jalan keluar lewat gerbang tersebut, tetapi hasilnya selalu nihil. Bahkan tak sedikit yang gugur setelah tersengat oleh monster setengah robot yang berkeliaran di lorong-lorong labirin tersebut.
Kebuntuan itu mulai berubah saat seorang cewek bernama Teresa Agnes (Kaya Scodelario) dikirim sebagai yang terakhir ke dalam Glade. Berbagai peristiwa pun muncul hingga membuat para remaja di sana tak memiliki jalan lain, selain mencari jalan keluar bersama-sama.
Petualangan
Suatu kisah yang disajikan lewat novel, tentu akan terasa berbeda saat ditayangkan dalam versi filmnya. Penggambaran suasana yang cukup imajinatif dalam cerita novel itu bisa dibilang berhasil diilustrasikan sang cinematographer, Enrique Chediak.
Namun, terlepas dari kisah sebenarnya di dalam novel, sepertinya akan lebih menegangkan apabila sepanjang film hanya menceritakan perjalanan para remaja dalam menyusuri labirin yang dipenuhi aksi menegangkan, dengan kemunculan para monster menyeramkan di tengah petualangannya.
Sayangnya, porsi penjelajahan labirin hanya sedikit sehingga gambar spesial efek saat bangunan labirin raksasa itu berubah bentuk, hanya bisa dinikmati sebentar. Kebanyakan adegan dilakukan di tengah labirin yang menyerupai hutan di kawasan Eropa-Amerika. Selebihnya ada yang di dalam ruangan penelitian di dalam tanah. Selain itu, terdapat banyak adegan yang berisi keterangan yang tidak jelas mengenai asal-usul, tujuan dan alasan para remaja itu dimasukkan ke dalam Glade. Semua itu terasa sia-sia karena pada akhirnya, toh penonton disuguhi ending yang terbuka. Kesia-siaan itu juga terjadi dalam berbagai adegan sub-konflik yang terjadi pada individu para pemeran.
Modal untuk menjadikan film ini menarik sebenarnya sangatlah besar, yakni ketegangan dan kemisteriusan bangunan labirin raksasa. Sosok monster bernama Grievers yang digembor-gemborkan pada proses promosi film, juga tidak terlalu terekspos.
Namun, alur cerita dan akting para pemeran tidak terlalu mengecewakan, bahkan cukup mendobrak fenomena kisah cinta berbeda dunia dari film-film "Twillight" dan sejenisnya. Belum lagi, nilai keteladanan seperti pantang menyerah dan berani yang ditunjukkan lewat peran Thomas, turut memberikan nilai positif bagi film ini.
Memilih Travel Haji Plus Jakarta Amanah dan Terpercaya
21 Apr 2022 | 1179
Memilih travel haji plus Jakarta amanah dan terpercaya dengan fasilitas terbaik dari Alhijaz Indowisata. Anda yang ingin melakukan ibadah haji dengan cepat dan masa tunggu tidak terlalu ...
Primadona Samba, Mesin Cuci Buatan Polytron Ini Mampu Cegah Bakteri dan Kuman
9 Maret 2020 | 1356
Air bersih adalah syarat penting di dalam mencuci pakaian. Tetapi pada waktu khusus seperti banjir atau musim kemarau, ketersediaan air bersih bakalan condong berkurang. Tak jarang warga ...
Tryout Online Masuk IPB Gratis: Fitur Ranking Nasional dan Statistik Kesiapan Belajar
13 Mei 2025 | 134
Mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi, terutama di Institut Pertanian Bogor (IPB), adalah langkah penting bagi calon mahasiswa. Dengan semakin ketatnya persaingan dan meningkatnya ...
Raih Pendidikan Terbaik bersama Kampus Virtual di Uhamka
6 Apr 2022 | 1857
Konsep Kampus Metaverse sama saja dengan pendidikan jarak jauh yang rencana akan diberikan kampus Uhamka yang menjalankan perkuliahan menggunakan sistem pembelajaran pendidikan jarak jauh. ...
Jazella ID: Solusi Jasa Make Up Profesional Panggilan Langsung ke Rumah
1 Nov 2025 | 99
Dalam dunia kecantikan yang serba cepat dan dinamis, kebutuhan akan layanan make up yang praktis, profesional, dan personal menjadi semakin tinggi. Banyak orang kini mencari solusi yang ...
SD Al Ma'soem: Sekolah Swasta Islam Terbaik di Bandung
30 Mei 2024 | 759
SD Al Ma'soem merupakan salah satu sekolah swasta Islam terbaik di Bandung. Didirikan pada tahun 1990, sekolah ini telah membuktikan eksistensinya dalam memberikan pendidikan yang ...