Keadaan yang Mungkin Terjadi Setelah Pencabutan Gigi
Oleh Admin, 27 Jan 2020
Sudah kita ketahui bersama, gigi geligi mempunyai peranan penting bagi tubuh meliputi fungsi bicara (fonetik), fungsi penampilan (estetik), dan fungsi pengunyahan (mastikasi).
Coba perhatikan kondisi gigi yang sehat, tentunya akan tampak putih berseri, kecuali pada indvidu tertentu yang memiliki warna gigi berbeda, seperti kuning tua/gading, keabu-abuan, atau bahkan terdapat bercak-bercak putih pada permukaan giginya, bebas dari proses karies dan karang gigi, napas pun terasa segar.
Bila gigi geligi tidak pernah dibersihkan alias tidak pernah rnenggosok gigi sudah pasti lambat laun akan rusak dan akan sangat mengganggu.
Umumnya gangguan yang mengenai gigi geligi yang tidal pernah dirawat adalah karies/lubang gigi, peradangan gusi, bau mulut (halitosis), rasa sakit, atau rusaknya mahkota gigi dan meninggalkan sisa akar gigi yang pada akhirnya harus dicabut/lepas dengan sendirinya (tergantung kondisi). Keadaan-keadaan ini biasa menyerang pada individu-individu yang malas merawat gigi dan yang takut ke dokter gigi.
Terdapat banyak hal yang mungkin timbul setelah tindakan pencabutan gigi dan menjadi permasalahan tersendiri bagi seorang dokter gigi dan pasien. Kemungkinan-kemungkinan apa yang dapat terjadi setelah tindakan pencabutan gigi, antara lain:
Timbul pembengkakan dan rasa sakit/demam, kadangkala sampai tidak bisa buka mulut / trismus. Hal ini dapat disebabkan oleh kesehatan mulut penderita yang buruk, misalnya banyak sekali karang gigi dan penumpukan sisa-sisa makanan, tidak makan obat yang diberikan dokter sesuai yang tertulis pada kertas resep, tidak mengindahkan saran-saran/petunjuk dokter.
Timbul perdarahan yang tiada henti. Hal ini dapat disebabkan bekuan darah dimain-mainkan dengan lidah/benda lain/berkumur terlalu kuat/secara tidak sengaja tertusuk jenis makanan saat mengunyah, pecahnya pembuluh darah, ataupun adanya kelainan sistem pembekuan darah yang tidak diketahui sebelumnya.
Luka bekas cabut susah sembuh. Ini dimungkinkan oleh kelainan sistemik penderita (penderita diabetes melitus) dan pada penderita yang pernah mendapat terapi radiasi di daerah leher dan kepala.
Pada penderita-penderita penyakit keganasan, yang lazim disebut kanker tindakan pencabutan gigi harus dilakukan secara hati-hati dan senantiasa berkonsultasi dengan dokter spesialis terkait. Hal ini guna menghindari pengaruh buruk dan sel-sel kanker itu sendiri.
Pada pencabutan gigi bungsu sering kali timbul parestes/rasa baal terus-menerus, rasa kesemutan. Ini timbul karena gangguan sistem saraf oleh besarnya trauma yang didapat saat pencabutan dilakukan. Kondisi ini lambat laun akan hilang dengan sendirinya seiring penyembuhan luka cabut bergantung pada tingkat cedera pada sarafnya, namun pada individu tertentu dapat pula bersifat permanen/menetap.
Jadi, bagi siapa pun yang memerlukan tindakan pencabutan gigi hendaknya mempersiapkan kondisi sebaik mungkin sesuai prosedur di atas dan seantiasa menghilangkan rasa takut yang berlebihan.
Lakukanlah dengan segera tindakan pencabutan gigi bila kondisi gigi sudah tidak bisa dipertahankan lagi, jangan menunda-nunda waktu pencabutan karena focal infeksi/penebaran infeksi pun bisa dimulai dari gigi geligi sehingga keadaan yang lebih parah/fatal pun dapat segera dihindari.
Artikel Terkait
Artikel Lainnya