Biang Kekecewaan di Tengah Rumah Tangga

Oleh Admin, 27 Apr 2026
Suami bermimpi dilayani, dipuja dan dipuji bak raja di istana...apalgi dengan dua atau empat bidadari yang seiap melayani, memanjakan dan mematuhi semua titahnya.

Sebaliknya sang istri bermimpi menjadi sang putri di istana mewah dengan segala kemewahan dan puja puji sebagai bidadari.

Namun faktanya, suami merasa tiada henti harus melayani dan hujatan setiap hari.

Sebaliknya sang istri terus menerus harus melayani dan mengorbankan perasaan demi menuruti titah sang suami dan memikul semua beban pekerjaan rumah seorang diri.

Kecewa dong...dan bahkan sakit hati....

Apa kah gerangan yang salah?

Ya, keduanya salah orientasi, karena menikah bukan untuk menjadi pengemis apalagi penindas.

Menikah adalah ikhtiar untuk melayani dan membahagiakan bukan mencari layanan dan mengemis kebahagiaan.

Suami berikhtiar untuk totalitas mengayomi, mencukupi agar dapat membahagiakan istri dengan seluruh jiwa raga dan hartanya.

Istri sepenuh hati berjuang menjadi penyejuk hati dan sumber kedamaian suami.

Sadarkah engkau wahai para suami bahwa senyummu adalah kebahagiaan istrimu, tutur katamu yang lembut adalah kedamaiannya dan pujian atau apresiasimu adalah penawar setiap rasa lelah dan bosan yang hinggap di hati mereka.

Wahai para istri, tahukah anda bahwa senyummu adalah pemandangan paling indah bagi suamimu, dan tubuhmu adalah kesenangan hidup suamimu dan kata katamu yang lembut nan santun adalah obat bagi setiap lelah dan sakit yang mereka rasakan selama bekerja.

Wajar bila dahulu Nabi shallallahu'alahi wa sallam rela menjadi lututnya sebagai pijakan istrinya ketika hendak naik onta....

Selamat mencoba resep bahagia ini, semoga rumah tanggamu bagaikan surga di dunia. Aamiin, dan jangan lupa untuk urusan lain untuk selalu saling bekerja sama dan saling mendukung, menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

 
Copyright © TigaPagi.com
All rights reserved