MU
Wot Batu, Bukan Taman Wisata dengan Instalasi Batu Biasa

Wot Batu, Bukan Taman Wisata dengan Instalasi Batu Biasa

14 Des 2019
526x
Ditulis oleh : Admin

Batu adalah material artefak kesenian yang abadi. Maestro seni rupa tanah air, Sunaryo Soetono tahu benar hal itu. Di matanya, batu bukan sekadar material dasar untuk membangun sesuatu. Maka, selama beberapa tahun terakhir, Sunaryo mempersiapkan sebuah "museum" batu terbuka, yang disebutnya wot batu. Tak hanya menjadi ajang menikmati perpaduan suasana Bandung utara dengan batuan vulkanis yang ditempatkan secara estetis, tempat ini juga menjadi ruang kontemplatif yang menjadi pembauran antara estetika, spiritualitas, dan sains.

Lorong dengan lebar tak lebih dari 1,5 meter, menjadi jalan setapak yang harus dilalui untuk masuk ke dalamnya. Bak labirin singkat, pengunjung diajak untuk berjalan pelan sambil menekuni tekstur. Mungkin itu sebabnya, sepanjang lorong dialasi kumpulan batu kerikil.

Wot batu berada di Jln. Bukit Pakar Timur No. 99, Kota Bandung. Pantulan sinar matahari dan pandangan terbatas saat melintasi lorong, dengan segera berganti sapuan pandangan lepas yang membuahkan decak kagum.

Pandangan yang diarahkan ke depan saat melintasi lorong, akan bertemu dengan sepasang batu besar yang dijuluki lingga yoni. Asalnya dari Bali. Batu lingga yang berdiri tegak, seolah melambangkan huruf alif atau permulaan. Sisi itu sekaligus menjadi permulaan pengembaraan pandangan dan rasa tatkala menjelajahi tempat seluas 2.000 meter persegi itu.

Untuk menikmati isi wot batu, seseorang bisa memulai dari mana saja. Hanya, Sunaryo lebih menyarankan untuk mengikuti alur yang telah dibuat, yaitu mengikuti jalan setapak yang arahnya berlawanan dengan jarum jam. Arah, itu juga selaras dengan hukum makro kosmos yang bergerak melawan arah putaran jarum jam. Seperti juga gerakan rotasi bumi, gerakan satelit mengitari planet, planet mengitari matahari, atau bahkan gerakan tawaf mengelilingi Kabah.

Di banyak bagian, terlihat batuan statis dari ukurannya yang kecil, hingga ukuran yang sangat besar. Menurut Sunaryo, asalnya kebanyakan dari kaki-kaki bukit di Pulau Jawa. Meskipun, ada pula yang berasal dari luar Jawa, bahkan luar negeri, seperti Italia dan India.

Sunaryo mulai punya mimpi untuk membuat ini sejak 1999, tapi waktu itu hanya mimpi saja. Mulai ada niat yang agak dekat sejak sembilan tahun lalu. Hingga akhirnya, ia mulai mewujudkan sekitar tujuh tahun lalu. Letak tempat itu tepat 990 meter di atas permukaan laut.

Ada alasan kuat yang mendasari Sunaryo mewujudkan wot batu, yang dulu hanya sebatas angan-angan. Ia ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat untuk anak cucu kita, yang masih bisa bertahan hingga lima ratus tahun atau ribuan tahun lagi. Anggap saja ini sekadar catatan kecil peradaban.

Empat Elemen Kehidupan

Secara keseluruhan, wot batu yang dibuat Sunaryo di kawasan Bukit Pakar Timur merupakan simbolisasi kehidupan yang berharmonisasi dengan aspek alam. Di dalamnya, wot batu juga tersusun dengan empat elemen penyokong kehidupan.

Jika kebanyakan orang berhenti memikirkan desain di atas meja, Sunaryo memilih tidak melakukannya. Lewat tempat ini, ia coba menyelaraskan ruang dan waktu, serta mengonfigurasikannya dengan elemen alam.

Empat elemen yang dimaksud Sunaryo adalah tanah, air, api, dan angin. Elemen tanah dan air terletak bersisian di sebagian besar lokasi. Untuk menghubungkannya, juga ada sebuah wot (jembatan) kecil yang bisa dilalui.

Sedangkan elemen api bisa ditemui di salah satu bilik batu, sebagai ruang perenungan. Ada pun unsur angin, bisa dirasakan dengan mudah di sekeliling wot batu, karena letaknya yang berada di kawasan perbukitan. Untuk menegaskannya, Sunaryo meletakkan kincir mungil di atas batu vertikal, yang juga merefleksikan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Video dari Ratusan Sketsa

Selain unsur alam dan kehidupan, Sunaryo juga menambahkan beberapa elemen lain yang bersifat kekinian. Diharapkan, keberadaan elemen ini bisa melengkapi maksud yang dibahasakan Sunaryo lewat wot batu.

Sebuah ruangan yang disebut "Bimasakti" menjadi salah satu penanda elemen itu. Di dalam ruangan bawah tanah itu, Sunaryo meletakkan sebuah layar yang diletakkan di dalam batu, dan proyektor film. Ruangan itu berk-pasitas delapan orang.

Layar ini menampilkan proses pembentukan bumi dalam wujud audio visual berdurasi lima menit. Video itu terbentuk dari ratusan sketsa yang digoreskan tangan Sunaryo. Di antara layar dan ruang berdiri, terdapat pembatas yang didesain menyerupai lava.

Di bagian tengah wot batu terdapat logam yang menggambarkan kondisi pegunungan di sekitar Cekungan Bandung. Bukit Pakar saja dikelilingi oleh sekitar 20-an gunung, yang sepertiganya berada dalam kondisi aktif.

Artinya, dalam beberapa tahun, dekade, atau abad mendatang, peta itu bisa saja berubah. Gambar ini dibuat Sunaryo untuk mengabadikan posisi saat ini.

Harmoni Alam

Sebuah panggung batu landai yang diisi tiga objek utama di sebelah kiri, segera menemani bagian pertama perjalanan. Di atasnya, ada pohon batu yang melambangkan kehidupan. Setelahnya, ada batu besar yang dipahat menyerupai riak gelombang.

Penggambaran itu dipilih untuk merefleksikan hubungan antara satu manusia dengan manusia lain (habluminannas) yang dipengaruhi hubungan sebab akibat. Secara diagonal, batu itu berhubungan dengan batuan lain yang berdiri tegak secara vertikal, yang dijuluki habluminallah, untuk merefleksikan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Objek ketiga adalah batuan yang tampak menyerupai perahu. Objek ini dipilih untuk menggambarkan perjalanan manusia.

Ayunan langkah mengantarkan kaki dan pandangan pada batu gerbang berukuran besar, yang ditempatkan menyerupai gapura. Sunaryo mengibaratkan ini sebagai pintu gerbang antara kehidupan masa kini dengan kehidupan setelah kematian (afterlife). Sebuah kolam yang seolah dibuat tak bertepi dengan panorama Bandung utara di ketinggian, juga merefleksikan hal itu. Di bagian pojok, terdapat batuan yang disusun secara vertikal dan horisontal.

Sunaryo waktu itu menyusunnya berdasarkan feeling dan insting saja. Sampai suatu hari, Pak Pirous (AD Pirous) datang dan melihat batuan ini seperti tulisan 'altitude' (tinggi atau ketinggian). Itu kebetulan yang membuat Sunaryo terkejut. Memang, banyak kebetulan lain yang entah benar kebetulan atau tidak, dan ia baru menyadari itu ketika teman-temannya dari segala disiplin ilmu datang berkunjung.

Mengenai tata letak batuan, Sunaryo tak begitu saja meletakkannya di titik tertentu. Semua batu yang kini berada di tempatnya, melalui serangkaian proses penempatan yang disesuaikan dengan indra, rasa, energi, dan harmoni alam. Bukan tak mungkin, batu-batu itu nantinya akan kembali dipindahkan. Layaknya denyut kehidupan yang tak pernah berhenti.

Tak hanya ingin menampilkan batu sebagaimana adanya, juga terlihat batuan yang dipahat menggunakan mesin. Pahatan yang sangat menarik terlihat pada bagian atas batu gerbang. Pahatan itu adalah pembesaran dari sidik jari Sunaryo.

Tekstur halus dan kasar yang ditempa rasa juga menjadi keindahan estetika tak terbantahkan. Jauh dari kesan primitif. Sedikit berandai-andai, mungkin saja, ketika tempat ini ditemukan lagi ratusan tahun mendatang, akan terlihat bahwa batu-batu yang ada bukan seperti peninggalan megalithikum, melainkan peninggalan manusia dari masa kini (modern age human).

Di sisi lain, juga terlihat batu bertumpuk sepuluh yang merefleksikan sepuluh perintah Tuhan (ten commandments of God). Ada pula jembatan (wot) setapak yang mengantarkan kaki pengunjung dari satu elemen ke elemen lainnya.

Lewat wot batu, Sunaryo seakan ingin memantik petualangan spiritual tanpa batas. Sedikit banyak, orang mungkin akan teringat pada Machu Picchu di atas lembah Urubamba di Peru, atau situs warisan dunia Stonehenge di Salisbury Plain, Wilshire, Inggris.

Seperti lorong pada pintu masuk yang terkesan misterius, keseluruhan tempat ini memang mengundang orang untuk berinterpretasi secara bebas. Sudah pasti, apa yang masing-masing orang rasakan saat mengunjungi tempat ini bisa berbeda. Hmm, jadi tidak sabar mengunjunginya, bukan?

Baca Juga:
Jaga Keutuhan Rumah Tangga Hingga Menjadi Tentram dan Harmonis

Jaga Keutuhan Rumah Tangga Hingga Menjadi Tentram dan Harmonis

Tips      

29 Jun 2020 | 437


Menjaga keutuhan rumah tangga memang harus dilakukan oleh pasangan suami istri. Walaupun kenyataannya banyak sekali masalah-masalah yang kadang muncul silih berganti dalam membangun sebuah ...

Samsung Galaxy A50, Smartphone Octa Core Usung 3 Kamera Belakang dengan Harga Terjangkau

Samsung Galaxy A50, Smartphone Octa Core Usung 3 Kamera Belakang dengan Harga Terjangkau

Gadget      

8 Feb 2020 | 502


Samsung Galaxy A50, yang dirilis pada Maret 2019 silam mempunyai kelebihan yang lebih baik ketimbang seri pendahulunya. Spesifikasi Samsung Galaxy A50 yang selalu diharap-harapkan mempunyai ...

Konten Youtube Paling Menarik dan Paling Dianjurkan Untuk Youtuber Pemula

Konten Youtube Paling Menarik dan Paling Dianjurkan Untuk Youtuber Pemula

     

26 Sep 2020 | 828


Youtube saat ini sudah menjadi salah satu platform berbasis digital yang paling digemari. Bahkan banyak yang menganggap nonton youtube lebih baik dan lebih menarik dibandingkan nonton ...

Gaya Desain Sangkar Burung Menawan dari Beberapa Kota di Nusantara

Gaya Desain Sangkar Burung Menawan dari Beberapa Kota di Nusantara

Pengetahuan      

3 Jan 2020 | 960


Di Indonesia, ada banyak kota yang memproduksi sangkar burung dengan gaya desain yang khas. Kreativitas desain itu pun terus berkembang, apalagi dengan semakin banyaknya pencinta ...

5 Cara Optimalkan Lahan Melalui Agroforestry

5 Cara Optimalkan Lahan Melalui Agroforestry

Tips      

2 Feb 2020 | 524


Pola usaha agroforestry sebagai upaya pemanfaatan lahan di perdesaan dengan memunculkan aneka peluang pendapatan kini banyak diminati di Indonesia. Selain bermanfaat secara ekonomis, juga ...

4 Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga

4 Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga

Tips      

31 Jan 2020 | 476


Terkadang saat kita telah siap berumah tangga, maka kita pun mesti siap dengan semua hal, termasuk dengan bagaimana cara mengatur keuangan dalam rumah tangga. Cara mengatur keuangan ...