hijab
Wot Batu, Bukan Taman Wisata dengan Instalasi Batu Biasa

Wot Batu, Bukan Taman Wisata dengan Instalasi Batu Biasa

14 Des 2019
249x
Ditulis oleh : Admin

Batu adalah material artefak kesenian yang abadi. Maestro seni rupa tanah air, Sunaryo Soetono tahu benar hal itu. Di matanya, batu bukan sekadar material dasar untuk membangun sesuatu. Maka, selama beberapa tahun terakhir, Sunaryo mempersiapkan sebuah "museum" batu terbuka, yang disebutnya wot batu. Tak hanya menjadi ajang menikmati perpaduan suasana Bandung utara dengan batuan vulkanis yang ditempatkan secara estetis, tempat ini juga menjadi ruang kontemplatif yang menjadi pembauran antara estetika, spiritualitas, dan sains.

Lorong dengan lebar tak lebih dari 1,5 meter, menjadi jalan setapak yang harus dilalui untuk masuk ke dalamnya. Bak labirin singkat, pengunjung diajak untuk berjalan pelan sambil menekuni tekstur. Mungkin itu sebabnya, sepanjang lorong dialasi kumpulan batu kerikil.

Wot batu berada di Jln. Bukit Pakar Timur No. 99, Kota Bandung. Pantulan sinar matahari dan pandangan terbatas saat melintasi lorong, dengan segera berganti sapuan pandangan lepas yang membuahkan decak kagum.

Pandangan yang diarahkan ke depan saat melintasi lorong, akan bertemu dengan sepasang batu besar yang dijuluki lingga yoni. Asalnya dari Bali. Batu lingga yang berdiri tegak, seolah melambangkan huruf alif atau permulaan. Sisi itu sekaligus menjadi permulaan pengembaraan pandangan dan rasa tatkala menjelajahi tempat seluas 2.000 meter persegi itu.

Untuk menikmati isi wot batu, seseorang bisa memulai dari mana saja. Hanya, Sunaryo lebih menyarankan untuk mengikuti alur yang telah dibuat, yaitu mengikuti jalan setapak yang arahnya berlawanan dengan jarum jam. Arah, itu juga selaras dengan hukum makro kosmos yang bergerak melawan arah putaran jarum jam. Seperti juga gerakan rotasi bumi, gerakan satelit mengitari planet, planet mengitari matahari, atau bahkan gerakan tawaf mengelilingi Kabah.

Di banyak bagian, terlihat batuan statis dari ukurannya yang kecil, hingga ukuran yang sangat besar. Menurut Sunaryo, asalnya kebanyakan dari kaki-kaki bukit di Pulau Jawa. Meskipun, ada pula yang berasal dari luar Jawa, bahkan luar negeri, seperti Italia dan India.

Sunaryo mulai punya mimpi untuk membuat ini sejak 1999, tapi waktu itu hanya mimpi saja. Mulai ada niat yang agak dekat sejak sembilan tahun lalu. Hingga akhirnya, ia mulai mewujudkan sekitar tujuh tahun lalu. Letak tempat itu tepat 990 meter di atas permukaan laut.

Ada alasan kuat yang mendasari Sunaryo mewujudkan wot batu, yang dulu hanya sebatas angan-angan. Ia ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat untuk anak cucu kita, yang masih bisa bertahan hingga lima ratus tahun atau ribuan tahun lagi. Anggap saja ini sekadar catatan kecil peradaban.

Empat Elemen Kehidupan

Secara keseluruhan, wot batu yang dibuat Sunaryo di kawasan Bukit Pakar Timur merupakan simbolisasi kehidupan yang berharmonisasi dengan aspek alam. Di dalamnya, wot batu juga tersusun dengan empat elemen penyokong kehidupan.

Jika kebanyakan orang berhenti memikirkan desain di atas meja, Sunaryo memilih tidak melakukannya. Lewat tempat ini, ia coba menyelaraskan ruang dan waktu, serta mengonfigurasikannya dengan elemen alam.

Empat elemen yang dimaksud Sunaryo adalah tanah, air, api, dan angin. Elemen tanah dan air terletak bersisian di sebagian besar lokasi. Untuk menghubungkannya, juga ada sebuah wot (jembatan) kecil yang bisa dilalui.

Sedangkan elemen api bisa ditemui di salah satu bilik batu, sebagai ruang perenungan. Ada pun unsur angin, bisa dirasakan dengan mudah di sekeliling wot batu, karena letaknya yang berada di kawasan perbukitan. Untuk menegaskannya, Sunaryo meletakkan kincir mungil di atas batu vertikal, yang juga merefleksikan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Video dari Ratusan Sketsa

Selain unsur alam dan kehidupan, Sunaryo juga menambahkan beberapa elemen lain yang bersifat kekinian. Diharapkan, keberadaan elemen ini bisa melengkapi maksud yang dibahasakan Sunaryo lewat wot batu.

Sebuah ruangan yang disebut "Bimasakti" menjadi salah satu penanda elemen itu. Di dalam ruangan bawah tanah itu, Sunaryo meletakkan sebuah layar yang diletakkan di dalam batu, dan proyektor film. Ruangan itu berk-pasitas delapan orang.

Layar ini menampilkan proses pembentukan bumi dalam wujud audio visual berdurasi lima menit. Video itu terbentuk dari ratusan sketsa yang digoreskan tangan Sunaryo. Di antara layar dan ruang berdiri, terdapat pembatas yang didesain menyerupai lava.

Di bagian tengah wot batu terdapat logam yang menggambarkan kondisi pegunungan di sekitar Cekungan Bandung. Bukit Pakar saja dikelilingi oleh sekitar 20-an gunung, yang sepertiganya berada dalam kondisi aktif.

Artinya, dalam beberapa tahun, dekade, atau abad mendatang, peta itu bisa saja berubah. Gambar ini dibuat Sunaryo untuk mengabadikan posisi saat ini.

Harmoni Alam

Sebuah panggung batu landai yang diisi tiga objek utama di sebelah kiri, segera menemani bagian pertama perjalanan. Di atasnya, ada pohon batu yang melambangkan kehidupan. Setelahnya, ada batu besar yang dipahat menyerupai riak gelombang.

Penggambaran itu dipilih untuk merefleksikan hubungan antara satu manusia dengan manusia lain (habluminannas) yang dipengaruhi hubungan sebab akibat. Secara diagonal, batu itu berhubungan dengan batuan lain yang berdiri tegak secara vertikal, yang dijuluki habluminallah, untuk merefleksikan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Objek ketiga adalah batuan yang tampak menyerupai perahu. Objek ini dipilih untuk menggambarkan perjalanan manusia.

Ayunan langkah mengantarkan kaki dan pandangan pada batu gerbang berukuran besar, yang ditempatkan menyerupai gapura. Sunaryo mengibaratkan ini sebagai pintu gerbang antara kehidupan masa kini dengan kehidupan setelah kematian (afterlife). Sebuah kolam yang seolah dibuat tak bertepi dengan panorama Bandung utara di ketinggian, juga merefleksikan hal itu. Di bagian pojok, terdapat batuan yang disusun secara vertikal dan horisontal.

Sunaryo waktu itu menyusunnya berdasarkan feeling dan insting saja. Sampai suatu hari, Pak Pirous (AD Pirous) datang dan melihat batuan ini seperti tulisan 'altitude' (tinggi atau ketinggian). Itu kebetulan yang membuat Sunaryo terkejut. Memang, banyak kebetulan lain yang entah benar kebetulan atau tidak, dan ia baru menyadari itu ketika teman-temannya dari segala disiplin ilmu datang berkunjung.

Mengenai tata letak batuan, Sunaryo tak begitu saja meletakkannya di titik tertentu. Semua batu yang kini berada di tempatnya, melalui serangkaian proses penempatan yang disesuaikan dengan indra, rasa, energi, dan harmoni alam. Bukan tak mungkin, batu-batu itu nantinya akan kembali dipindahkan. Layaknya denyut kehidupan yang tak pernah berhenti.

Tak hanya ingin menampilkan batu sebagaimana adanya, juga terlihat batuan yang dipahat menggunakan mesin. Pahatan yang sangat menarik terlihat pada bagian atas batu gerbang. Pahatan itu adalah pembesaran dari sidik jari Sunaryo.

Tekstur halus dan kasar yang ditempa rasa juga menjadi keindahan estetika tak terbantahkan. Jauh dari kesan primitif. Sedikit berandai-andai, mungkin saja, ketika tempat ini ditemukan lagi ratusan tahun mendatang, akan terlihat bahwa batu-batu yang ada bukan seperti peninggalan megalithikum, melainkan peninggalan manusia dari masa kini (modern age human).

Di sisi lain, juga terlihat batu bertumpuk sepuluh yang merefleksikan sepuluh perintah Tuhan (ten commandments of God). Ada pula jembatan (wot) setapak yang mengantarkan kaki pengunjung dari satu elemen ke elemen lainnya.

Lewat wot batu, Sunaryo seakan ingin memantik petualangan spiritual tanpa batas. Sedikit banyak, orang mungkin akan teringat pada Machu Picchu di atas lembah Urubamba di Peru, atau situs warisan dunia Stonehenge di Salisbury Plain, Wilshire, Inggris.

Seperti lorong pada pintu masuk yang terkesan misterius, keseluruhan tempat ini memang mengundang orang untuk berinterpretasi secara bebas. Sudah pasti, apa yang masing-masing orang rasakan saat mengunjungi tempat ini bisa berbeda. Hmm, jadi tidak sabar mengunjunginya, bukan?

Baca Juga:
5 Obat Alami untuk Mengatasi Sakit Perut pada Anak

5 Obat Alami untuk Mengatasi Sakit Perut pada Anak

Kesehatan      

18 Jan 2020 | 272


Sakit perut pada anak biasa terjadi. Malah, rentan diderita oleh anak umur di bawah 10 tahunan. Keadaan ini menyebabkannya jadi kurang enak dan merupakan gejala bahwa terdapat masalah ...

Berwisata di Taman Balai Kota Bandung

Berwisata di Taman Balai Kota Bandung

Wisata      

24 Des 2019 | 199


Taman kota di Bandung yang memiliki wajah baru adalah Taman Balai Kota. Dinamai demikian karena berada satu kompleks dengan gedung Pernerintahan Kota Bandung. Gedung Balai Kota memiliki ...

Devoyage Bogor, Tempat Wisata Tematik ala Eropa di Bogor yang Menarik untuk Dikunjungi

Devoyage Bogor, Tempat Wisata Tematik ala Eropa di Bogor yang Menarik untuk Dikunjungi

Wisata      

4 Feb 2020 | 270


Kota Bogor merupakan kota yang sangat banyak disukai oleh kalangan Pluviophile. Kota ini mempunyai curah hujan yang lumayan tinggi, oleh karena itulah memperoleh sebutan sebagai kota hujan. ...

Taman Nasional Baluran, Inilah Pesona Wisata Indonesia dengan Rasa Afrika

Taman Nasional Baluran, Inilah Pesona Wisata Indonesia dengan Rasa Afrika

Wisata      

15 Feb 2020 | 208


Bagi anda yang mengaku seorang pencinta alam, Taman Nasional Baluran merupakan tempat tujuan yang wajib anda masukkan ke daftar paket liburan yang akan anda kunjungi. Lantaran, Taman ...

Ini Dia 4 Bahaya Alergi Makanan yang Wajib Diwaspadai

Ini Dia 4 Bahaya Alergi Makanan yang Wajib Diwaspadai

Kesehatan      

2 Feb 2020 | 199


Ketika mendengar kata alergi, kira-kira apa nih yang timbul di pikiran kita? Ya, pasti yang terbayang ialah kulit yang ruam dan merah diiringi gatal-gatal atau bintik-bintik merah dan eksim ...

Serunya Melihat Satwa dari Jarak Dekat di Taman Safari Prigen Jawa Timur

Serunya Melihat Satwa dari Jarak Dekat di Taman Safari Prigen Jawa Timur

Wisata      

25 Feb 2020 | 239


Bagi anda yang senang menilik kehidupan binatang, wajib menyambangi taman Safari Prigen yang terdapat di Jawa Timur. Kebun binatang ini tergolong salah satu kebun binatang kebanggan ...